renungan akhir tahun

Dua tahun lalu, saya menulis renungan akhir musim dingin. Akhir tahun selalu menyisakan sebuah kondisi yang evaluatif: kontemplatif terhadap yang telah lewat, prediktif terhadap yang akan datang. Seringkali penuh keraguan, disela sejumput harapan. Silahkan membaca!

Yah itulah hidup yang mau tidak mau harus aku jalani. Walo hati kecil rasanya menolak, tetap saja selagi aku ga sanggup memilih mati, ya aku lakoni juga hari2 yang terus datang. mati segan, hidup tak mau hihihi mungkin itu dilema yang kerap kuhadapi di tanah yang asing ini…tapi di sela-sela keputusasaan macam ini, Amboi… justru aku menemukan pulsa yang terus berdenyut. perlahan, samar… tapi kontinyu…..hidup!!

It is amazing the way the weak pulse eventually sustains the whole idea of living itself. So rather than the enlightening idea of perfection, of excellence, it is the ups-and-downs-continuity that makes life, that creates the world.

Ya, setiap hari selalu ada tirai yang terbuka, yang seringkali bikin aku termangu, kadang ternganga bahkan… tapi dibalik tirai itu selalu ada tirai yang lain lagi, begitulah tak pernah ada akhirnya. Tapi dalam kontinuitas membuka tirai itulah tanganku bergerak, dalam “kesia-siaan” itulah aku hidup: seperti Sisyphus yang terus mendorong batu

Benar: membuka tirai itu tidak membuatku semakin menjadi tahu, justru sebaliknya aku sadar betapa banyak tirai-tirai lainnya, betapa banyak yang tidak aku tahu dan akan selalu begitu: aku tidak mungkin tahu semuanya; aku tidak mungkin menjadi Tuhan! Pada saat seperti inilah aku sampai pada keterbatasanku keterbatasan yang membuatku manusia; manusia yang hanya sanggup mengakses representasi, mencipta mimesis.  Maka tak perlu aku berpusing dengan eidos yang diluar jangkauanku: karena hasil adalah di luar kuasaku. Karena hasil adalah kematianku.

Biarlah pulsa yang lemah itu menjadi hidupku, seperti tirai itu menjadi penyangga gerakku. Maka tangan yang membuka tirai itu satu-satu adalah semata tameng, sebuah proses yang melawan kematian

Vie

Comments (1) »

hujan yang sebenar-benarnya

Hujan deras. Gemuruh bunyi titik air menyentuh genting rumah, pucuk pohon, dan jatuh ke tanah. Bumi mendung. Basah. Petir yang bersahutan. Mencekam. Inilah hujan tropis. Ada semacam rindu menyelusup: ingatan pada tanah nan jauh. Tanah yang tanpa hujan yang sebenar-benarnya hujan. Hanya salju putih yang membekukan. Salju yang nanti dilelehkan oleh hujan gerimis, atau hujan saja, tapi bukan hujan yang sebenar-benarnya hujan. Mungkin itu hukum alam, yang mengatur siklis air: salju menjadi beku, beku menjadi es, dan es leleh oleh air hujan, air menguap lalu membentuk salju kembali. Jika tidak ada hujan, mungkin salju akan menggunung seperti di kutub. (Apa benar di kutub tidak ada hujan?) Pernah aku terpukau, saat sadar bahwa setiap habis turun salju, tak berapa lama pasti turun hujan, walau bukan hujan yang sebenar-benarnya, hanya gerimis, atau hujan biasa saja. Saat berada di tanah nun jauh tersebut, aku rindu hujan yang sebenar-benarnya. Hujan yang gemuruh dengan petir bersahutan dan angin yang menggoyang daun-daun ke sana ke mari. Hujan yang titiknya seperti air bah yang ditumpahkan dalam saringan berlubang kecil-kecil. Deras dan gemuruh, jatuh ke bumi. Kini di rumah, mendengarkan gemuruh hujan tercurah dengan sebenar-benarnya, aku hampir saja mengeluh. Untung aku ingat ujaran temanku: masih untung bukan salju. Benar juga sih. Waktu ditemani salju selama berbulan-bulan, aku juga mengeluh. Oleh dingin yang melumpuhkan. Waktu itu aku ingin kembali ke tropis. Sekarang ketika aku mendengarkan gemuruh hujan yang sebenar-benarnya, hampir aku lupa untuk tidak mengeluh. Mungkin aku ingat pengalaman kemarin, saat aku sedang di jalan, tanpa atap yang melindungi, lalu hujan turun dengan sebenar-benarnya. Saat itu aku lupa untuk menghargai hujan tropis: pakaianku basah dan aku tidak bisa segera mengeringkan diri. Karena itu pula beberapa hari kemudian aku mengeluh pada temanku tentang langit yang lagi-lagi mendung. Masih mending bukan salju, katanya. Benar juga sih. Kini ketika ada genting rumah yang melindungiku dari gemuruh air bah yang tumpah pada saringan kecil-kecil, aku tiba-tiba merindu. Rindu aku untuk berada kembali di tanah nun jauh, supaya bisa merindui hujan yang sebenar-benarnya…

Comments (2) »

new york, new york

Ketika memasuki kota New York, aku pandangi lamat-lamat rerumahan yang berdiri di batuan cadas antik tanah yang disebut New York ini. Batu2 cadas itu begitu khas, menyimpan begitu banyak sejarah. Setiap mencapai ujung highway dan mulai memasuki kota New York aku selalu berusaha membayangkan bagaimana kota metropolitan ini dibangun dahulunya. Yang langsung teringat adalah filmnya Dicaprio, “Gang of New York”. Aku yakin begitu banyak cerita dan juga derita, begitu banyak tenaga, begitu banyak konflik dan kepentingan, mungkin juga begitu banyak darah…  

Untuk masuk ke kota New York, kita harus melewati terlebih dahulu terowongan yang cukup panjang yang diterangi oleh lampu2 temaram. Terowongan dari arah utara (Pennsylvania, Upstate NY) berdindingkan batu cadas dan beton, sedang yang ke arah selatan (yang menuju bandara, New Jersey) dinding terowongannya ditutupi oleh tile2 keramik berwarna terang (itu looh terowongan yang sering dipake setting film action Holywood ttg kejar2an antara penjahat-polisi). Memasuki terowongan yang melintangi Bergline Avenue, juga New York Avenue, aku teringat komentar Ben, teman sekelasku yang bilang bahwa bila seseorang ingin meneror kota New York, mudah saja, tinggal membom jalan masuk dan jalan keluar NYC. Masalahnya lanskap kota New York sangatlah unik, akses masuk/keluarnya diregulasikan sedemikian rupa, membuatku bertanya-tanya kepentingan macam apa saja yang menjadikan kota ini begitu penting hingga harus diproteksi seperti itu. Misalnya saja jembatan2 yang menghubungkan Manhattan dengan pulau kecil lain seperti Long Island, semuanya diregulasikan sedemikian rupa; tingginya diatur supaya truk2 pengangkut (terutama imigran hehe…) yang tinggi2 tidak bisa memasuki kota. 

Keluar dari terowongan, bis melewati pinggiran Manhattan, menampilkan panorama kota yang selalu kurekam baik-baik dalam benak karena aku tak mau ingatan ini hilang; panorama yang telah terdokumentasikan dalam jutaan kartu pos, foto maupun lukisan; panorama deretan gedung pencakar langit Manhattan! Ya, lanskap NY yang spektakuler, seperti fiksi! Walau kali ini panorama ini dilatarbelakangi cuaca mendung dan berkabut New York di musim dingin, tetap saja ada keindahan di sana, keindahan metropolitan tempat segelintir elit dunia memainkan pion caturnya.  Mungkin saat ini dari salah satu lantai tertinggi gedung2 itu, sekelompok konglomerat dunia sedang mendiskusikan Negara mana lagi yang akan dijatuhkan perekonomiannya, sambil ber-salute minum champagne dan memandang ke kerlap-kerlip lampu New York dari jendela. Hmm semuanya ada di new York, mulai dari raksasa media CNN, pusat perbelanjaan para selebriti Rockefeller Plaza, dan restoran serta kondominium mewah di dekat Central Park, hingga kere korban media di Bronx, juga tempat jajanan lima-puluh-sen-an di China town, dan tempat penjajaan barang bajakan di pinggir jalan2 Greenwich village. Semuanya tinggal Anda pilih! 

Ahhh hatiku selalu berdegup memasuki salah satu kota terpadat di dunia ini. Apalagi begitu keluar dari Port Authority dan masuk ke forty-second Street yang terkenal itu. Bahkan jam tiga sore, jalanan itu telah menawarkan gemerlap lampu warna-warni, lengkap dengan penduduk dan pendatang NY yang ruah berjalan di pinggirannya. Saat itu benakku sibuk mencari satu kata yang bisa mewakili kota New York, apakah itu unbelievable atau mungkin incredible? Or is it simply irresistible? Ahhh entahlah kota ini selalu berhasil membuatku overwhelmed, begitu banyak cerita yang terilhami dan tercipta di kota ini. Seribu kunang-kunang di Manhattan-nya Umar Kayam adalah salah satu yang kuingat, belum lagi beratus film Hollywood yang mengambil setting di sudut kota NY, semuanya turut memberi nafas pada kota ini, memberi mitos bagi dinamika kota ini, menjadikannya sebagai kota yang “wajib” dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai penjuru dunia.

New York City, December 11, 2004: 4.37

Comments (1) »

Dekalb, Chicago, Madison

Berikut adalah laporan pandangan mata atas perjalanan singkat ke Dekalb di State illinois, Chicago dan Madison di state Wisconsin. Dekalb is not a big city, but different from Binghamton, it has corn-farming area. Pokonya ladang jagung deh sejauh mata memandang. Spesialisasinya adalah jagung putih yang rasanya sangat manis hihihi…itu loh yang suka dibikin chips Tostitos, camilan kegemaranku yang bikin aku tambah ndutzz dan ndutzzz. Di University of Northern Illinois ada danau kecil, tempat mahasiwa bisa piknik, menggelar tikar, memandangi bebek2 yang berenang dengan asiknya. Damai deh pokonya. 

Chicago…hmm as you may well know, a very big city with tall buildings every where. Namanya sebenarnya berasal dari sebutan Indian, Chicagou yang artinya “smelly onion patch” hihihi…stingky..stingky city…Walopun iramanya sedikit lebih lambat dari New York City, tapi menapaki jalanannya cukup bikin aku inget lagi sama irama kota Bandung. Sempet window shopping di wilayah Michigan Avenue, tempat butik2 bermerk berjajar dengan rapi. Tak lupa, i cruised on its river to admire the different architectures of the buildings from near by. yang unik dari sungai ini adalah, pada akhir abad ke-19 alirannya sempat dibalik arahnya karena kota Chicago terkena wabah penyakit yang menewaskan banyak penduduknya. Kini air mengalir dari danau michigan arah sungai Missisipi, hingga semua sampah buangan pun mengalir ke luar hihihi…kasian deh penduduk Missouri… (but it is said bahwa merekapun balik membuang “sampahnya” ke Chicago, you know…the Missouri’s beer legging *terkekeh*)  

Cruising-nya start di Navy Pier, dulunya pelabuhan tempat para budak dibawa dari afrika, menyusuri sungai Mississipi, tapi sekarang sudah diubah jadi semacam tempat wisata cruising, (di dalamnya juga berjajar Mall2 dan kios chain foods) dan tempat pesta kembang api, perayaan tahun baru bagi warga Chicago. It’s a pity that I could not get to the top of Sears building, the third highest building in the world (orang Chicago tampaknya kesal banget karena gedung kebanggaannya dikalahkan ama menara Petronas di Malaysia hehehe…) Nevertheless I managed to get to the top of Hancock Building (Chicago’s second tallest building). Di bawah Hancock building itu ada toko kue yang terkenal banget, Cheesecake Factory namanya. Semacam kartikasari-nya Bandung lah. Tapi di dalam ada restorannya. Cuman kalo mo makan di situ ngantri Bow, nunggu dapet mejanya aja bisa setengah ampe satu jam sendiri. Cheesecake-nya?? Okay banget dah… *sluurrpp* sepotong kecil aja dah bikin kita puas. Di puncak Hancock building (di lantai 95 dan 96 kalo ga salah) ada restoran dan luncheon mewah hahaha tempat Oprah makan malem kali yeee… gile beli orange juice aja $15!! jijay bajay deh… 

Sempet juga ke taman yang baru dibangun di tengah kota, cukup kontroversial krn menghabiskan banyak dana, namanya Millenium Park. Ditengahnya ada outdoor stage yang megah dan ada huge silver peanuts. Kalo siang, di kulit kacang itu terpantul bayangan gedung2 chicago. Selain Park, ada juga museums.  Kebetulan di Field Museum lagi ada ekshibisi the Forbidden City, jadinya kayak sekalian melawat ke Beijing hihihi… karena di situ ditampilkan “the glorious reign of the Emperor of Qianlong”, kaisar, cendekiawan, penyair, ulama besar Cina yang banyak mengumpulkan benda2 seni di istananya.  Di Art gallery of Chicago ternyata koleksinya cukup lengkap. Di seksi impressionism, ada karya Matisse, Cezane, Degas, Van Gogh, dan Picasso serta Monet. Di seksi realism ada Eugene Delacroix, pelukis Perancis yang banyak mempengaruhi lukisannya Raden Saleh. Ada juga lukisan Gustave Moreau, tapi sayang sekali bukan yang Salome (itu loh, ingat ga lukisan yang sering dipake untuk nerangin psikoanalisis, kayaknya itu sih ada di Louvre Paris) 

Madison is another story. The city is not very big, but it has beautiful scenery, surrounded by two lakes: the Monona and the Mendota. Dalam lukisan2, kedua danau ini sering direpresentasikan sebagai dua putri kembar yg cantik. Danau2 ini membuat Madison menjadi seperti kota pantai pada saat summer karena banyak kapal2 kecil yg berlayar. Pada saat winter kedua danau beku, sehingga kita bisa berjalan di atasnya, bahkan main skating. Salah satu bangunan paling terkenal di kota ini adalah Madison’s State Capitol, one of the most beautiful buildings I have ever seen: almost all its walls are covered in marbles of high quality from six different countries. Desain luarnya meniru Capitol yang di DC, desain dalamnya…uwaaaah indah banget penuh nuansa emas dan kayu magohani. Marmernyapun berwarna-warni, dengan pola yang tidak umum. Di beberapa ruangan bahkan marmernya mengandung fosil2 binatang laut yang berumur jutaan tahun. Setelah peristiwa kebakaran pd awal abad ke-20 Capitol ini di rebuild dengan dana tak kurang dari $7juta yang dikumpulkan selama 11 tahun. Hiks…kalo dibeliin kerupuk bisa untuk ngasih makan seluruh penduduk dunia kali yeee… setiap summer, sabtu dan minggu di luar Capitol ada farmer market yang menjual sayur/buah/bunga segar dan hasil pertanian lainnya. 

Oya kalau mau lihat bunga, bisa juga pergi ke Olbrich Botanical Garden. Pas aku ke sana, lagi ada festival dahlia, jadinya beraneka warna dan jenis bunga dahlia yang amboi indahnya dan besarnya dipamerkan di vas2 bunga. Kalau mau menikmati danau, bisa pergi ke Monona terrace. Arsitekturnya unik, karya arsitek kenamaan dan kebanggaan Madison, Frank Lyod Wright. Dia juga yang mendesain Gugenheim Museum di New York dan beberapa gedung pencakar langit lain di Chicago. Kampusnya juga oke kok, University of Wisconsin at Madison. ada satu gedung tempat mahasiswa ngumpul, namanya Memorial Union, terasnya menghadap ke Mendota lake. Di dalamnya ada kios yang jual home made ice cream *slurrpp* yummy… tapi ngantri belinya panjang juga hiks…makannya di pinggir danau sambil liat camar. Dari Uni ke Capitol ada jalan yg namanya State St. Di sepanjang jalan ini berjajar berbagai toko dan restoran. Wuaah asik banget deh, street life-nya kerasa banget. Mo coba jenis makanan asing? tinggal pilih deh! Aku kemaren cuman sempet nyoba masakan Afgan-mediteranean, Tibet-Nepal, sama… Chinese tentu saja hehehe…

well segitu dulu laporan pandangan matanya okay :-)

Bingo, 2004

No comment »

pendidikan humaniora

Saat ini kita membutuhkan pendidikan interdisipliner yang lebih integral, di mana kebijakan2 yang diambil bisa semakin memasyarakatkan studi humaniora khususnya, (ilmu sosial umumnya) yang sudah ditelantarkan selama orde baru.  Upaya seperti pembangunan link antar fakultas/jurusan patut dilakukan karena menjembatani kesenjangan yang telah melanda wacana pengetahuan yang berkembang di tanah air, terutama semenjak orde baru.  Berbeda dengan di Amerika (yang mewajibkan undergraduate student dengan pengutamaan science untuk mengambil satu kelas art/humanity/social), di Indonesia, hanya sebagian kecil ilmuwan yang dalam kerjanya “menyentuh” dan melibatkan kajian seni, filsafat, sastra, ataupun ilmu sosial.  Di Amerika, mahasiswa sastra bisa duduk bersebelahan dengan chemistry- major-student dalam kelas yang membahas ttg penulis cerpen kenamaan Argentina, Jorge Luis Borges.

Satu hal dari “hilangnya” unsur humaniora dalam pendidikan umum yang berkembang pasca tahun 70-an (ketika terjadi penyeragaman orientasi lewat pembentukan sekolah umum, dan pengurangan vocational schools) adalah rapuhnya bentukan “pribadi” atau identitas, sehingga lulusan yang dihasilkan oleh pendidikan berorientasi “ilmiah” semacam ini adalah bukan manusia-manusia berpribadi “utuh” melainkan manusia bersumber daya; manusia yang dapat diberdayakan–kalau bukan diperdayakan (untuk orientasi ekonomi ini rujuk saja UU No. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, dan tujuan Pembangunan Jangka Panjang II mulai dari pelita ke-6).

Orientasi pada pasar, pada industri yang merespon perkembangan perekonomian global menyusut peranan yang sebenarnya dapat dilakukan oleh manusia Indonesia karena sejak awal mereka telah diposisikan hanya sebagai pelengkap produksi. Pemosisian, pemahaman diri lebih sebagai objek daripada subyek ini tentu saja berpengaruh pada cara manusia ini bersikap.  Ketidakseimbangan antara pemahaman terhadap alam dan pemahaman terhadap manusia pada akhirnya mencipta wawasan ke-isme-an yang serba parsial. Tidak heran misalnya bila kita menemukan ahli tatakota yang sangat jenius, tapi sangat dungu dalam mengatur ruang metropolis dengan gedung2 pencakar langitnya. Sebagai akibat dari kebijakan yang bukan didasari kemanusiaan orang banyak, maka banjir terjadi di mana-mana.

Akibat banyaknya ilmuwan, pemuka agama, politisi, pembuat kebijakan yang tidak “berpribadi,” ditambah pengikut2nya yang tidak menyadari kemanusiaannya, maka muncullah konflik2.  Akibat tidak menyadari kompleksitas seorang manusia, maka pelajar yang bertahun belajar agama bisa menyatakan bahwa seorang manusia lainnya sesat hanya karena beberapa kalimat yang pernah dilontarkannya dalam suatu kesempatan. Apakah keimanan dan kesesatan seseorang dapat ditentukan hanya dari sikap dan ucapannya dalam suatu masa saja?? Bila saja manusia2 ini memahami karakter fundamental manusia yang plural, maka tidak akan dengan sangat mudah judgment diberikan untuk mengeneralisasi sebuah simbol atau entitas yang menjelma dalam sebuah kalimat, sesosok Amin Rais, logo partai, atau atribut keagamaan.  Maka sebuah kalimat ttg validitas shalat tidak akan ditafsir begitu saja dengan melepaskan konteks ujarannya; maka seorang Amien Rais tidak akan dilihat hanya sebagai wakil Muhammadiyah tapi juga sebagai seorang politikus yang punya kepentingan politik, sebagai kepala keluarga yang punya kewajiban terhadap keluarganya, sebagai manusia yang sangat rentan terhadap kesalahan; maka seseorang yang memakai kaos merah bergambarkan kepala banteng tidak akan selalu dilihat sebagai pendukung PDI yang harus sepenuhnya mendukung kebijakan ketua partainya; maka orang yang berjilbab atau bersarung dan kopiah tidak selamanya dipandang sebagai orang-orang yang paham agama; maka orang-orang yang mengenakan atribut berbeda dari dirinya tidak akan dipandang sebagai manusia yang menganut prinsip-prinsip yang necessarily different dari yang kita percayai.

Ahhh…jika saja manusia itu mau berusaha mengenali sedikiiittt saja kemanusiaan manusia lainnya, maka sirnalah kebenciaan yang senantiasa muncul di hati. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah, … lalu mengapa manusia tidak berusaha mengenali kemanusiaannya???

Bingo, 2004

No comment »

kenangan

Terbuat dari apakah kenangan? Tulis Mas Seno. Kalimat itu mengigatkanku pada buah pikir yang sempat melintas di benakku, bahkan sempat menggangguku untuk beberapa saat lamanya. Sedih sekali memang ketika aku menyadari bahwa kenangan tidak akan pernah bisa disimpan. Ah…tapi mengapa harus sedih? Mengapa aku selalu menginginkan untuk menyimpan kenangan? Untuk mengabadikan kenangan? Mengapa pula aku selalu merasa ada yang hilang pada saat aku mengalami sesuatu dan sadar bahwa dalam beberapa detik ia akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah dapat sepenuhnya kubagi dengan siapapun, bahkan tidak dengan diriku sendiri.  Tapi satu hal yang aku kagumi dari Mas Seno: Ia bisa membahasakan kenangan; ia bisa menuliskan satu episode kisah dan kelebat pikiran-pikiran yang muncul setelahnya. Satu episode saja yang berlangsung mungkin hanya beberapa detik, tapi bisa menjadi sebuah kisah karena dibingkai buah pikir yang berkelebat di benak, mengikuti sensasi indera yang beberapa detik itu. Kelebatan itu tertangkap oleh kata-kata yang membingkai kisah Mas Seno, seperti gambar-gambar foto tertangkap oleh satu gerakan tangan yang menekan tombol kamera.  Baris demi baris yang kubaca rasanya begitu familiar, pernah juga berkelebat dalam benakku, hingga aku terkejut-kejut karena bisa bertemu kembali dengan pikiran2 itu, hanya saja kali ini pikiran2 itu sudah dibahasakan dengan runtun oleh Mas Seno. Keterkejutanku juga disebabkan oleh terbukanya kemungkinan akan pertemuan dengan kenangan. Tulisan Mas seno telah memungkinkanku bersua kembali dengan ingatan akan pikiran2ku, dengan kenangan akan pikiran2ku.

Bayreuth, June 6, 2004: 16.10

No comment »

estetika dan lukisan

Beberapa hari yang lalu membaca postingan di milis ttg  org LSM yg berkisah baru dapat kesempatan mengunjungi Amerika. Sedikit termangu ketika beliau menuliskan bahwa ia begitu terharu ketika berkesempatan mengunjungi museum dan berdiri di depan lukisan Picasso, Monet, dan beberapa pelukis besar lainnya. Tidak berapa lama kemudian saya membaca karya Gertrude Stein (”The Good Anna”) yang begitu terpengaruhi oleh lukisan impressionistik ala Cezane dan juga Matisse. Sejenak saya termangu, usai membaca tulisan Stein: Apakah estetika begitu pentingnya hingga mampu membuat orang begitu terinspirasi? Saya jadi teringat ketika saya berdiri di depan lukisan-lukisan terkenal di Galery of Art di Chicago, Metropolitan Museum di New York, maupun Museum of Modern Art di Wina, Austria. Entah apa yang saya rasakan saat itu. Rasanya begitu aneh. Saat itu saya tidak terlalu familiar dengan lukisan, bahkan saya bukan penikmat lukisan yang bisa termangu-mangu, apalagi terharu memandangi sebuah lukisan yang indah. Hanya saat pertama berada di museum yang penuh lukisan terkenal itu, saya ditemani oleh teman saya, Yayoi, orang Jepang yang mempelajari Art History. Dari Yayoi inilah saya mulai belajar mengapresiasi lukisan. Sepanjang kunjungan kami di museum, Yayoi banyak berceritera mengenai latar belakang lukisan dan keunggulan masing-masing tekniknya. Saat itu saya mulai menyadari bahwa lukisan sangat erat kaitannya dengan sastra. Ketika mengambil kuliah Modernisme, baru saya dikenalkan dengan Gertrude Stein yang mengambil model aliran lukisan untuk teknik menulis prosanya. Akan tetapi sejak pertama membaca karyanya, ada satu hal yang kerap mengganggu saya: cara Stein menggambarkan tokoh-tokohnya yang kebanyakan adalah tokoh kelas menengah ke bawah, walaupun sarat dengan estetika, selalu cenderung pada bias kolonial. Saya ingat betapa saat Stein dibahas, salah seorang classmate saya yang orang Amerika berkulit putih menjadi berang begitu saya menunjukan kecenderungan Stein yang bias tsb. Saya melihat ada kesamaan antara cara Stein menokohkan karakter perempuannya dengan cara Robert Musil menokohkan Tonka, atau cara Huysman menokohkan karakter utamanya dalam “Against the Grain”. Ketiganya sama-sama menggunakan estetika “Barat” yang membuat tokoh dan prilakunya dalam peristiwa ceritera seakan menjadi begitu “indah”.  Keindahan itu dicapai dengan memberikan eksposure pada keburukan, kemiskinan, kebodohan si tokoh, seakan-akan kekurangan tersebut sudah menjadi takdir tak terelakan bagi si tokoh (deterministik). Argghhh… betapa saya bisa begitu marah menyadari konstruksi “superioritas Barat” yang ditanamkan melalui narasi modern macam miliknya Stein, Huysman, Musil, dll. Jadi setiap kali memandang lukisan surealis, kubisme, impressionis, dan avant-garde, haruskah aku menangis terharu? padahal pada saat yang sama saya juga mengingat ada “western metaphysical view of being” yang berpretensi untuk menginklusi secara universal padahal sebenarnya sangat ekslusif dan bias? Entahlah. Tapi bisa juga saya termanggut-manggut waktu berada di gedung museum yang megah di Chicago, New York, dan Wina tadi, at least supaya saya bisa merasa jadi bagian dari “cultured people” yang tau mengapresiasi karya seni adiluhung. Entahlah…

No comment »

pascakolonialisme

To speak in the desired way is to speak against oneself (Leela Gandhi, 1998: 13). Maka diri harus melawan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berujar seperti yang diinginkannya. Pada saat postcolonialist berusaha mengingat dan membongkar pengalaman kolonialnya, maka ia harus bisa melihat bahwa dirinya sendiri terbangun dan merupakan bagian dari ingatan sejarah colonial yang berusaha dilawannya. Maka sebenarnya postcolonialism adalah sebuah studi yang ambigu karena berusaha melawan dirinya sendiri, yaitu dengan mengingat dan not to let go semua tindak oppressive sambil pada saat yang sama menyadari bahwa diripun harus “melupakan” and let loose beberapa tindak oppressive lainnya demi mengklaim bahwa kolonialisme sudah berakhir.  Ada semacam symbiotic doubleness yang beroperasi dalam kesadaran. Maka subjek postcolonial, seperti halnya nation state, baru bisa exist ketika ada selective and shared memory yang mengimajinasikan bahwa ada bentuk pengalaman colonial yang kompleksitasnya membentuk dirinya menjadi seperti sekarang, dan pengalaman colonial itu harus diandaikan sudah selesai, supaya bisa ada tahap berikutnya, yaitu tahap postcolonial itu sendiri. Padahal mungkin sebenarnya kolonialisme itu belum berakhir, mungkin tidak akan pernah berakhir—dan mungkin juga tidak pernah berawal (usaha mencari awal mula, origin, archae, authenticity kolonialisme hanya akan menhantarkan kita lebih dalam pada jebakan nihilis studi poststrukturalisme). Jadi mungkin yang bisa dilakukan adalah bukannya usaha menegasi, melawan sepenuhnya (total resistance to) colonialism, melainkan usaha mencari kreativitas untuk dapat endure that “postcoloniality”

Binghamton, February 3, 2005: 22.53

No comment »

hukum manusia

Law pada satu sisi membatasi kekuasaan (meregulasi, mendistribusi), tapi pada saat yang sama juga bisa melegitimasi kekuasaan (misalnya to let die and to let live). Masalahnya selama hukum dibuat oleh manusia, maka ia akan rentan penyalahgunaan karena sovereignty-nya membuat si manusia pembuat hukum dapat menyesuaikan hukum dengan kepentingannya atau bahkan membuat dirinya sendiri kebal dari hukum itu. Tapi bila hukumnya berasal dari hukum di luar diri manusia, maka hukum itu mengatur manusia tanpa kecuali. Pertanyaannya: dalam praktiknya mungkinkah untuk menciptakan hukum yang bebas dari kepentingan? Karena dalam dunia pragmatis, manusia juga yang memberikan state of exception. Apakah untuk mencegah penyalahgunaan sebuah hukum sebaiknya diimplementasikan oleh group of people, rather than just one person? Ketika klasifikasi kelompok tersebut didefinisikan, maka munculah problematika klasik dari berdirinya metropolis: masalah representasi, masalah perwakilan.

Bingo, October 3, 2004: 00.24

No comment »

critical theory

there’s one subject that people in my department seem willingly fight to teach: critical theory. Having taught it for two semesters, I now wonder what is actually meant by critical theory? as far as i know, those terms were used by the Frankfurt school to refer to major previous thoughts: Kant, Hegel, Marx, and Freud. But in the context of my department’s curriculum, it always starts with Plato then goes on chronologically with among others: Aristotle, Horatius, Longinus, St. Augustine, St. Aquinas, Francis Bacon, Wordsworth, Baudelaire, Nietzsche, Matthew Arnold, Leavis, I.A. Richard, Brooks, Wimsatt, Beardsley, Skholvsky, then continues with thematic focus such as on structuralism, deconstruction, postmodernism, cultural materialism, new historicism, feminism, psychoanalysis, postcolonialism, cultural studies, etc. Unfortunately, the discussion does not involve the Frankfurt School’s debate at all. Sometimes it is discussed in cultural studies section, however only in superficial introduction–if not being left at all.

No comment »